
TERNATE — Muhja La Saihi, Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Maluku Utara, berhasil menyelesaikan studi S2 dalam waktu 1 tahun 1 bulan. Ia menempuh pendidikan di Program Studi Magister Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun (FPIK Unkhair) Ternate.
Dalam tesisnya, Muhja meneliti kesesuaian lahan untuk budidaya rumput laut di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan. Hasil penelitian tersebut diharapkan menjadi data dasar (baseline) bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pengembangan kawasan budidaya secara berkelanjutan.
Selain Muhja, terdapat empat mahasiswa lain yang menyelesaikan ujian tesis melalui skema percepatan tersebut. Mereka adalah Irwan Usman, Reza, dan Suryani Hud dari DKP Maluku Utara, serta Julhasna Hasanudin dari Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah.
Koordinator Program Studi Magister Ilmu Kelautan Unkhair, Prof. Dr. Muh. Aris, S.Pi., M.P., mengungkapkan bahwa capaian ini terwujud dalam ujian tesis semester ganjil Tahun Akademik 2026/2027. Muhja menjadi mahasiswa kelima yang berhasil lulus melalui skema akselerasi masa studi tersebut.
Menurut Prof. Aris, strategi pemangkasan waktu kuliah ini diterapkan untuk menjawab persoalan lamanya masa studi yang sempat memicu rendahnya minat calon mahasiswa. Sebelumnya, rata-rata mahasiswa menyelesaikan pendidikan dalam empat hingga lima semester.
“Kami mengubah kurikulum sehingga riset dimulai sejak semester pertama. Tahun pertama difokuskan pada penelitian dan penyusunan tesis, sehingga mahasiswa dapat menyelesaikan studi dalam tiga semester,” ujar Guru Besar Bidang Manajemen Kesehatan Ikan Unkhair tersebut di Ruang Ujian III Gedung Pascasarjana Unkhair, Selasa (22/9/2026).
Lulusan skema cepat ini berasal dari sejumlah instansi di Maluku Utara, seperti DKP Provinsi Maluku Utara, Pemkab Halmahera Tengah, dan Balai Wilayah II Dufa-Dufa. Prof. Aris menegaskan bahwa penelitian para mahasiswa sengaja diarahkan untuk menjawab persoalan nyata di wilayah kerja masing-masing.
Topik riset mereka mencakup strategi ekspor ikan Maluku Utara, penguatan rantai dingin perikanan di Halmahera Utara, resiliensi masyarakat pesisir di kawasan industri tambang, hingga pemetaan rumput laut di Pulau Obi yang digarap oleh Muhja.
Menariknya, hasil riset mahasiswa juga diuji langsung dari perspektif industri. Pada ujian tesis Muhja, prodi menghadirkan penguji eksternal yaitu Vice President Marine and Environmental PT Harita Group, Windi Prayogo.
Langkah ini, tambah Prof. Aris, merupakan bagian dari konsep “Kampus Berdampak” agar riset akademis tidak berhenti sebagai arsip, melainkan menjadi masukan konkret bagi kebijakan sektor kelautan dan perikanan di Maluku Utara.
Transformasi kurikulum ini terbukti mulai mendongkrak minat pendaftar. Jika beberapa tahun lalu jumlah mahasiswa baru hanya dua hingga tiga orang—bahkan sempat kosong—pada tahun 2026 ini Magister Ilmu Kelautan Unkhair berhasil menerima 10 mahasiswa baru.
“Fokus kami tetap pada riset pesisir dan kelautan yang mampu menjawab tantangan nyata di Maluku Utara. Target kami, mahasiswa dapat lulus dalam tiga semester dengan kompetensi yang tetap terjaga,” pungkas Prof. Aris.