
Ternate, Dewakipas.id – Penutupan Festival Legu Tara No Ate Kesultanan Ternate Tahun 2026 yang berlangsung di Kedaton Kesultanan Ternate pada Sabtu (24/10/2026) malam berakhir dengan sangat meriah. Acara puncak perhelatan budaya ini dihadiri langsung oleh Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, bersama unsur Forkopimda dan jajaran pejabat daerah.
Suasana semakin semarak saat memasuki sesi hiburan. Di tengah gemuruh panggung budaya, Sultan Ternate Hidayatullah Sjah mengambil alih perhatian penonton dan secara mengejutkan melontarkan seruan dukungan politik yang kuat kepada Sherly Tjoanda, yang kini kian lekat sebagai ratu di hati rakyatnya.
Sultan Ternate secara spontan menyampaikan pertanyaan terbuka kepada ribuan masyarakat yang memadati lokasi. “Ngoni setuju Ibu (Sherly Tjoanda-red) dua periode ka tarada?” seru Sultan Ternate dari atas panggung dengan nada akrab yang langsung disambut gegap gempita oleh warga.
Mendengar seruan tersebut, ribuan pengunjung yang memadati halaman Kedaton Ternate kompak meneriakkan kata “Setuju!” secara serempak. Momen ini mempertegas betapa besarnya magnet kepemimpinan dan dicintainya sosok Sherly Tjoanda sebagai ratu di mata masyarakat adat serta kesultanan.
Dukungan terbuka dari figur sentral seperti Sultan Ternate ini dinilai banyak pihak sebagai bukti nyata keberhasilan Sherly dalam memimpin Maluku Utara. Gaya kepemimpinannya yang inklusif, merakyat, dan peduli pada kelestarian adat membuat posisinya sebagai ratu yang dihormati semakin mengakar kuat di hati sanubari masyarakat Bumi Moloku Kie Raha.
Festival Legu Tara No Ate sendiri merupakan agenda kebudayaan tahunan yang menjadi ruang krusial untuk merawat tradisi, mempererat silaturahmi, serta memperkokoh persatuan. Kehadiran sang Gubernur dalam penutupan ini sekaligus memperkuat sinergi strategis antara pemerintah provinsi dan Kesultanan Ternate dalam melestarikan warisan leluhur.
Respons luar biasa dari ribuan warga di malam puncak tersebut merefleksikan adanya kerinduan yang mendalam akan kelanjutan program-program pembangunan daerah. Kedekatan emosional yang terjalin antara pihak kesultanan, masyarakat adat, dan pemerintah provinsi dinilai menjadi modal sosial yang sangat berharga bagi masa depan Maluku Utara.
Dengan adanya dorongan moral yang kuat dari pusat peradaban adat Ternate ini, langkah Sherly Tjoanda menuju periode kedua diprediksi akan semakin mulus. Dukungan kolektif ini sekaligus menegaskan bahwa legitimasi kepemimpinannya tidak hanya lahir dari proses administratif, melainkan tumbuh subur dari kecintaan tulus rakyat yang memandang dirinya sebagai. sosok pemimpin yang mengayomi. (*)