
TERNATE – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Maluku Utara bersama Laboratorium Universitas Khairun (Unkhair) Ternate telah menyelesaikan uji sampel air laut terkait dugaan pencemaran di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan. Hasil uji laboratorium memastikan bahwa fenomena perubahan warna air dan kematian ikan di wilayah tersebut murni disebabkan oleh gejala alam, bukan limbah industri.
Guru Besar Universitas Khairun, Prof. Dr. Muhammad Aris, mengungkapkan bahwa hasil uji laboratorium khususnya pada parameter kualitas air menunjukkan perubahan warna laut dipicu oleh ledakan populasi plankton atau blooming algae.
“Setelah kami teliti, kadar logam berat dalam air laut di sana masih berada jauh di bawah baku mutu atau standar yang ditetapkan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (14/9).
Ia menjelaskan bahwa perubahan warna air yang terjadi pada Agustus lalu di perairan Pulau Obi disebabkan oleh jenis plankton Trichodesmium. Jenis plankton ini memiliki karakteristik yang sangat sensitif terhadap perubahan cuaca dan suhu ekstrem.
“Nah, plankton jenis inilah yang selama ini memicu perubahan warna air laut. Spesies ini paling cepat melakukan blooming. Begitu kondisi lingkungan mengalami kenaikan suhu air laut, maka di situlah terjadi proses ledakan populasi secara masif,” jelas Prof. Aris.
Prof. Aris menambahkan, fenomena blooming ini umumnya terjadi saat transisi musim ketika intensitas cahaya matahari meningkat tajam dan memicu pemanasan suhu permukaan laut. Kondisi ini membuat nutrisi di dasar laut naik ke permukaan, sehingga menjadi asupan makanan utama yang mempercepat reproduksi plankton Trichodesmium dalam hitungan hari.
Terkait kematian massal ikan pelagis milik warga, hasil penelitian tim laboratorium menunjukkan bahwa biota laut tersebut mengalami anoksia atau kondisi darurat kekurangan oksigen. Fenomena ini lumrah terjadi saat ledakan plankton karena populasi Trichodesmium yang padat mengonsumsi hampir seluruh cadangan oksigen terlarut dalam air, terutama pada malam hari saat proses respirasi berlangsung.

Secara terpisah, Plt Kepala DKP Maluku Utara, Kadri La Etje, menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada tim laboratorium Unkhair. Kerja sama taktis ini berhasil mengungkap kepastian ilmiah di balik isu lingkungan yang sempat meresahkan publik tersebut.
“Hasil uji lab dari Universitas Khairun ini sekaligus menjawab kegelisahan masyarakat. Kami ingin menegaskan bahwa kematian ikan dan perubahan warna air laut bukan karena aktivitas ekstraktif atau pertambangan di wilayah tersebut,” tegas Kadri.
Oleh karena itu, Kadri mengimbau agar masyarakat Pulau Obi dan sekitarnya tidak perlu merasa gelisah lagi karena fenomena tersebut murni siklus alamiah tahunan. Ia juga memastikan bahwa komoditas perikanan dari wilayah perairan Obi saat ini sudah kembali aman untuk ditangkap dan dikonsumsi oleh masyarakat setempat.
Sebagai langkah mitigasi ke depan, Kadri menyatakan bahwa DKP Maluku Utara akan memperketat pengawasan pesisir dan rutin melakukan pemantauan kualitas air berkala bersama pihak akademisi. Langkah preventif ini diambil agar pemerintah daerah memiliki basis data yang kuat dalam membedakan antara pencemaran lingkungan akibat aktivitas manusia dan fenomena alam murni. (*)