
Ternate – Di Maluku Utara, pejabat pemerintah atau kepala daerah yang ditangkap karena korupsi mungkin bukan suatu hal yang mengejutkan. Sudah terlalu banyak pejabat yang dicokok oleh penegak hukum lantaran terlibat suap, korupsi, atau bahkan sekedar gratifikasi.
Begitu maraknya aparatur pemerintahan yang dijerat kasus hukum sehingga memunculkan stigma betapa sulit bagi pejabat pemerintah lepas dari dosa rasuah. Uang dan kekuasaan menjadikan orang lupa akan amanat dan tugas mulia dari jabatan yang diembannya, membawa kemajuan bagi daerahnya sendiri.
Namun stigma itu tampaknya tidak berlaku bagi mantan Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa (BPBJ) Provinsi Maluku Utara ini. Dia adalah Kadri Laetje. Saat ini menjabat sebagai Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Malut. Dari berbagai sumber, Dewakipas.id merangkum sepak terjang Kadri Laetje.
Pejabat Jujur
Kadri Laetje dikenal sebagai sosok pejabat sederhana. Pada tahun 2025, ia ditugaskan oleh Gubernur Sherly Tjoanda sebagai Ketua Panitia Ibadah Haji, Embarkasi dan Debarkasi Provinsi Maluku Utara.
Kadri bukan sosok yang mengejar jabatan dan harta. Lihat saja, dalam melaksanakan tugasnya sebagai Ketua Panitia Haji, ia mampu menyisahkan dana haji yang tidak terpakai oleh panitia sebesar Rp 3,1 miliar.
Sisa uang yang begitu besar, namun tak membuat dia gelap mata. Justru uang tersebut dikembalikannya ke Kas Daerah di akhir tahun 2025.
“Kunci keberhasilan menyisahkan dana Haji ini, tidak lepas dari gaya kerja saya yang dalam setiap saat berkonsultasi dengan BPKP dan BPK agar aturan-aturan penggunaan anggaran dilaksanakan secara tepat, cermat, akurat, dan akuntabel,” kata Kadri saat berbincang dengan Dewakipas, Kamis 25 Juni 2026.
Sukses dalam menyisahkan anggaran dana hibah haji tersebut merupakan hasil dari pengelolaan anggaran secara hati- hati, efisien, dan disiplin, termasuk peran Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, yang aktif mengawasi kerja-kerja panitia.
“Ibu Gubernur adalah mentor akuntan terbaik dalam kerja-kerja panitia saat itu. Sehingga sisa uang tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan mahasiswa yang tidak mampu,” ujar Kadri.
Membangun Kepercayaan
Mempertahankan integritas bukan perkara mudah, apalagi jika godaan korupsi muncul di depan mata. Butuh keteguhan hati untuk memegang nilai-nilai integritas agar godaan bisa ditepis. Kadri Laetje sudah membuktikannya, bahwa tanpa kejujuran dan komitmen yang teguh, pencapaian apa pun tidak akan memiliki nilai yang berkelanjutan.
Di tengah krisis kepercayaan publik, sosok Kadri ini memberi harapan bahwa masih ada pejabat yang berintegritas. Integritas Kadri menunjukan kepribadian yang jujur, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya, selaras dengan imbauan Gubernur Sherly untuk menjaga tata kelola pemerintahan yang bersih serta transparan.