
SOFIFI – Dalam kurun waktu yang tergolong singkat, yakni baru 1,8 tahun masa jabatan, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda dan Wakil Gubernur Sarbin Sehe langsung tancap gas merealisasikan pembangunan sepanjang 150 kilometer (km) jalan provinsi. Langkah nyata ini menjadi bukti komitmen cepat duet pemimpin tersebut dalam membenahi infrastruktur jalan yang sebelumnya rusak parah kini mulus diaspal demi mendongkrak akses transportasi masyarakat.
Berdasarkan data capaian, lompatan besar ini dimulai pada tahun 2025 dengan pembangunan jalan provinsi sepanjang 25 kilometer. Hanya berselang setahun, tepatnya pada tahun 2026, volume pembangunan meningkat sangat signifikan menjadi 125 kilometer, termasuk di dalamnya proyek strategis jalan lingkar Pulau Makian, Loloda-Galela, dan ruas Payahe–Dahepodo.
“Pada tahun 2027, kami menganggarkan pembangunan untuk 150 kilometer jalan lagi, sehingga akumulasinya menjadi 300 kilometer. Selanjutnya, pada tahun 2028 dan 2029, kita akan menyelesaikan sisa target sepanjang 250 kilometer,” ujar Sherly dalam rapat paripurna HUT ke-27 Maluku Utara di Gedung DPRD Malut, Sofifi, Senin (12/10/2026).
Sherly menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yang tinggi harus dirasakan langsung oleh masyarakat. Oleh karena itu, hanya dalam waktu kurang dari dua tahun ini, Pemerintah Provinsi berkomitmen penuh mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) secara tepat sasaran, dengan fokus pada sektor riil dan percepatan pemerataan infrastruktur.
Pencapaian kilat ini ditujukan untuk membuka konektivitas antardesa dan antarkecamatan, terutama pada jalur logistik strategis yang selama ini menghambat mobilitas warga. Sebelum perbaikan kilat ini dilakukan, akses transportasi di wilayah pelosok kerap mengalami kendala parah, terutama saat musim hujan akibat jalan berlubang dan berlumpur.
Untuk mengatasi persoalan menahun tersebut, perbaikan jalan dijadikan salah satu program prioritas utama sejak awal masa jabatan mereka. Dinas terkait langsung dikerahkan untuk memetakan jalur kritis dan mempercepat proses pengerjaan di lapangan tanpa menunda waktu.
Sherly menyatakan, keberhasilan menuntaskan proyek 150 km dalam waktu 1,8 tahun ini dicapai melalui pengawasan yang sangat ketat dan efisiensi anggaran. Pemantauan berkala dilakukan secara spartan untuk memastikan kualitas jalan tetap sesuai standar teknis yang ditentukan meski dikerjakan dengan tempo cepat.
Setelah pembangunan rampung, dampak positifnya langsung terasa nyata. Aktivitas ekonomi warga mulai menunjukkan peningkatan pesat. Petani dan nelayan setempat kini dapat mendistribusikan hasil komoditas ke pasar perkotaan dengan waktu tempuh yang jauh lebih singkat dan biaya logistik yang jauh lebih efisien.
Selain sektor ekonomi, gebrakan jalan mulus ini turut berdampak positif pada pelayanan publik lainnya. Fasilitas kesehatan seperti ambulans kini dapat lebih cepat merujuk pasien darurat ke rumah sakit, dan akses anak-anak menuju sekolah menjadi jauh lebih aman.
Respons positif dan kekaguman pun datang dari sejumlah tokoh masyarakat setempat. Mereka mengapresiasi dan memuji langkah super cepat pemerintah daerah dalam merealisasikan perbaikan jalan yang telah dinantikan warga selama bertahun-tahun, yang ternyata mampu diwujudkan hanya dalam waktu 1,8 tahun menjabat. (*)
