
Ternate – Politikus PPP Asyhari Usman mulai mengeluhkan sulitnya bertemu langsung dengan Gubernur Sherly Tjoanda. Keluhan ini disampaikan langsung Asyhari Usman yang juga merupakan Sekretaris DPW PPP Maluku Utara.
Ia menyampaikan kekecewaan terhadap pola komunikasi dan gaya manajerial pemerintahan Sherly Tjoanda. Menurutnya, relasi perjuangan politik sering kali hanya hangat saat kekuasaan belum diraih. Setelah kemenangan terbentuk, ruang kebersamaan perlahan mengecil dan para pendukung mulai merasa dijauhkan.
“Ketika momentum politik berlangsung, semua pihak dipeluk dalam narasi kebersamaan. Namun setelah kekuasaan terbentuk, ruang kebersamaan itu perlahan menyempit,” kata Asyhari, Kamis 28 Mei 2026.
Ia juga menyindir praktik politik yang kerap melupakan para pendukung setelah kemenangan diraih.
“Asas ‘ingat saat butuh, lupa saat menang’ telah lama mengakar dalam praktik politik Indonesia, termasuk di daerah. Kekuasaan sering kali terlalu sibuk merawat stabilitas elit hingga lupa menjaga perasaan politik para pendukung yang menjadi fondasi kemenangan,” lanjutnya.
Partai di Maluku Utara khususnya PPP secara masif mengonsolidasikan seluruh elemen, kader, dan relawan untuk memenangkan pasangan calon Sherly-Sarbin pada Pilkada 2024.
Namun PPP justru tidak dianggap setelah kemenangan berhasil diraih. Bahkan surat audiensi dari DPW PPP Maluku Utara tidak digubris oleh Gubernur Sherly Tjoanda.
“Ini hanya bagian dari luapan emosi diantara sedih ketika 2 minggu lalu saya pertama kali tiba di Bobong yang terlihat bangkai Kapal Bela 72 yang kemudian mengingatkan saya tentang kebersamaan dengan Almarhum Pa. Mubin sebagai Ketua DPW PPP Maluku Utara, marah karena Ibu Gubernur tidak perna merespon permohonan Audiensi dari DPW PPP yang sudah disampaikan berulang-ulang kali,” katanya. (*)