
Ternate – Bursa Pilgub Maluku Utara 2029 mulai hangat setelah lembaga riset merilis survei yang menempatkan Ikram Malan Sangaji (IMS) di posisi puncak dengan elektabilitas 32,1 persen, mengungguli sejumlah figur seperti Sherly Tjoanda, Tauhid Soleman, Irine Roba, dan Hasan Ali Bassam Kasuba.
Angka tersebut menempatkan IMS jauh di atas para pesaing potensial lainnya di jazirah Maluku Utara. Keunggulan ini mengindikasikan bahwa kerja-kerja politik dan sosialisasi yang dilakukan dalam setahun terakhir mulai berbuah manis di tingkat akar rumput.
Survei ini menggunakan metode multistage random sampling dengan melibatkan ribuan responden yang tersebar secara proporsional di 10 kabupaten dan kota se-Maluku Utara. Tingkat kepercayaan survei berada di angka 95 persen dengan margin kesalahan (margin of error) sekitar 2,8 persen.
Dalam temuan di lapangan, tingginya elektabilitas Bupati aktif Halmahera Tengah itu didorong oleh faktor ketokohan yang kuat serta tingkat pengenalan (awareness) publik yang nyaris merata di seluruh wilayah kepulauan. Pemilih menilai figur tersebut memiliki kapasitas kepemimpinan yang tegas.
Selain itu, isu-isu pembangunan ekonomi lokal, pemerataan infrastruktur, dan kesejahteraan nelayan serta petani yang diusung oleh IMS menjadi daya tarik utama bagi pemilih mengambang (swing voters). Program kerja yang realistis dinilai pas dengan kebutuhan masyarakat Maluku Utara saat ini.
Kendati kokoh di puncak, para pengamat politik mengingatkan agar IMS tidak cepat berpuas diri. Pasalnya, sisa waktu menuju tahun 2029 masih cukup panjang dan rentan terjadi pergeseran preferensi politik pemilih.
Sejumlah figur penantang diprediksi bakal segera mengonsolidasikan kekuatan untuk menaikkan elektabilitas mereka masing-masing.
Dominasi angka 32,1 persen ini sekaligus menjadi preseden penting dalam peta jalan politik Maluku Utara. Konsistensi elektabilitas dalam survei berkala selanjutnya akan menjadi ujian nyata bagi ketahanan posisi puncak sang tokoh.
Secara keseluruhan, bursa Pilgub Maluku Utara 2029 dipastikan bakal berjalan kompetitif dan menarik perhatian publik regional maupun nasional. Kunci kemenangan nantinya akan sangat bergantung pada strategi merawat konstituen dan ketepatan membaca isu lokal. (*)