
SOFIFI – Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, sukses mencetak sejarah baru dengan melepas ekspor perdana komoditas tuna loin sirip kuning (yellowfin tuna loin) langsung ke pasar Korea Selatan. Agenda pelepasan resmi dijadwalkan berlangsung pada 3 September 2026.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Maluku Utara, Kadri La Etje, menyatakan bahwa langkah strategis ini menjadi tonggak sejarah penting bagi sektor perikanan daerah. Keberhasilan ini terwujud berkat kontribusi besar nelayan Pulau Bacan Tengah (sebagai client/penyuplai) dan PT MUF (sebagai patron/mitra pembeli utama).
“Model kerja sama Patron-Client yang terbangun ini terbukti sangat efektif,” ujar Kadri, Selasa (1/9/2026).
Sebagai bagian dari persiapan, pengiriman logistik telah berjalan sejak pertengahan Agustus dan akan dilanjutkan pada 3 September 2026. Total pengiriman dari kedua gelombang tersebut mencapai 2 kontainer, dengan muatan 18 ton tuna loin per kontainer.
Secara akumulatif dalam dua bulan terakhir, Maluku Utara telah mengekspor 27 ton tuna loin. Dengan estimasi rendemen produk jadi sekitar 50%, total hasil tangkapan kotor yang berhasil diproduksi nelayan mencapai 54 ton.
Ekspor langsung ini berdampak positif bagi nelayan lokal karena memotong rantai distribusi. Jalur pasar internasional yang terbuka membuat harga beli di tingkat nelayan tradisional diproyeksikan lebih stabil dan meningkat, sehingga mampu menyejahterakan masyarakat pesisir.
Kadri menegaskan pencapaian ini adalah komitmen nyata Pemerintah Provinsi Maluku Utara dalam mendorong hilirisasi perikanan. Komoditas yang diekspor telah melalui proses pengolahan menjadi bentuk loin untuk memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor non-tambang.
“Keberhasilan menembus pasar Korea Selatan membuktikan kualitas komoditas laut Maluku Utara berada di level premium. Kepercayaan ini menjadi modal utama produk kita di kancah global,” pungkasnya. (*)