
Oleh : Andre Sudin
(Aktivis PMII)
“Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia,” kata Nelson Mandela. Kutipan ini sangat relevan dengan perjalanan Abubakar Abdullah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Maluku Utara.
Pasca dilantik sebagai Kepala Dikbud Maluku Utara, pada 6 November 2025 lalu, Abubakar tidak “duduk manis di kursi empuk”, melainkan langsung turun ke lapangan, bekerja keras, dan berorientasi pada sekolah-sekolah.
Abubakar mengunjungi sekolah-sekolah di wilayah yang masih jauh dari dunia gemerlap perkotaan. Dunia yang jalanannya belum beraspal, air yang hanya mengandalkan kemurahan alam, dan kondisi sekolah yang masih jauh dari kata layak. Aka, begitu sapaan akrabnya, tengah mengemban misi mulia untuk meningkatkan mutu pendidikan Maluku Utara.
Tak sekadar mengunjungi, Abubakar memahami bahwa peran seorang Pemimpin pendidikan adalah memastikan kualitas pendidikan, pengembangan kompetensi guru, serta penciptaan suasana sekolah yang aman, nyaman, dan harmonis, baik secara fisik maupun iklim sosial untuk mendukung pembelajaran.
Abubakar adalah sosok yang memiliki tekad kuat untuk mengubah wajah pendidikan Maluku Utara. Ia memang dikenal sebagai sosok inspiratif. Lihat saja, saat mengunjungi sekolah-sekolah, Abubakar selalu memberikan motivasi kepada siswa dan guru dengan menekankan pentingnya semangat, kreativitas, dan adaptasi teknologi, serta memberikan apresiasi atas dedikasi mereka.
Motivasi ini mencakup ajakan untuk tidak mudah menyerah dalam meraih cita-cita, berinovasi dalam metode pembelajaran, serta menjaga integritas dan kedisiplinan. Abubakar berkomitmen menghadirkan pendidikan yang tidak hanya terencana di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan hingga ke bangku sekolah.
Komitmen tersebut ia buktikan melalui program yang terencana dan terukur. Perlu diketahui, program Dikbud Malut telah menyentuh banyak sekolah seperti pemasangan Starlink untuk memfasilitasi internet gratis yang bertujuan mempercepat digitalisasi pendidikan di sekolah-sekolah, terutama di wilayah terpencil dan tertinggal.
Selain itu, Program Pendidikan gratis yang memberikan manfaat kepada 68.512 peserta didik, terdiri atas 44.381 siswa sekolah negeri dan 24.131 siswa sekolah swasta, termasuk MA dan SMAK. Program Revitalisasi Sarana dan Prasarana Sekolah yang bersumber dari APBD 2025. Hingga Desember 2025 lalu, tercatat Dikbud Malut sudah merevonasi 68 sekolah.
Realisasi Dana Beasiswa PIP Tahun 2025. Hingga tahap terakhir bulan Desember 2025, penerima PIP jenjang SMA sebanyak 15.918 siswa dengan nilai Rp 25.590.600.000, meningkat signifikan dari tahap sebelumnya sebanyak 7.696 siswa.
Program ketahanan pangan yang melibatkan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Program ini dilakukan dengan kegiatan penanaman tumbuhan hortikultura di pekarangan 21 SMK di Maluku Utara, yang berlangsung pada 7 Februari 2026.
Kemudian, Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) telah menjangkau 320 dari 407 sekolah atau sekitar 78 persen. Dan masih banyak lagi pencapaian yang telah berhasil dilaksanakan, namun tidak memungkinkan untuk saya menjabarkannya satu per satu secara rinci dalam tulisan ini. Semua pencapaian itu jika ditulis menggunakan kertas Houtvrij Schrijfpapir (HVS), saya yakin dan percaya akan menghabiskan setengah rim kertas HVS yang umumnya 250 lembar.
Dari Aka kita belajar bagaimana menjadi sosok pemimpin yang tidak hanya mumpuni (competence). Namun, menggunakan hati agar bisa membangun manusia dan berkelanjutan. Setiap langkah yang dilakukan Aka, untuk mengubah wajah pendidikan di Maluku Utara yang lebih baik. Semangatnya selaras dengan pesan Gubernur Sherly Tjoanda, menghadirkan pemerataan pendidikan tanpa membedakan status sekolah.***