
Ternate, Dewakipas – Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun, mengadakan kuliah umum bertempat di Ruang Mare, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Khairun yang berlokasi di Kampus 2 Gambesi.
Kuliah umum ini mengusung tema “Pengabdian untuk Penelitian Sahu dan Maluku Utara.” Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada mahasiswa, tentang pentingnya menjaga dan merawat budaya Maluku Utara di tengah arus budaya global.
Kuliah umum tersebut dibawakan oleh Prof Liontine E. Visser, yang merupakan Guru Besar Emeritus dari Wageningen University, Belanda.
Prof Liontine E.Visser sendiri merupakan sosok legenda hidup untuk penelitian kebudayaan Sahu yang telah dilakoninya sejak 45 tahun yang lalu. Dedikasinya untuk meneliti dan membangun budaya Sahu tak pernah padam sehingga beliau sendiri mendapatkan tempat khusus bagi banyak masyarakat Sahu yang mengenalnya. Tak terhitung berapa puluh kali kunjungan yang dilakukan oleh beliau dalam perjalanan bolak balik Belanda-Maluku Utara. Namun, di usianya yang kian senja beliau sudah tidak dapat lagi melakukan rutinitas perjalanan annual yang mampu menstimulan semangatnya dalam perjalanan ke Maluku Utara.
Beberapa karya kebudayaan lulusan Leiden University ini yang barangkali merupakan salah satu fondasi dari penelitian budaya dan historis masyarakat pedesaan di masa transisi dari tradisionalitas menuju modernisasi menjadi monumen ilmu pengetahuan terutama dalam bidang kebudayaan, sejarah, humaniora.
Bahkan, beberapa karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia seperti Sejarah dan Kebudayaan Sahu; Kain Adat Sahu yang diterbitkan bilingual Indonesia-Inggris; serta Pantun Tradisional Ternate yang dalam kondisi sedang on progress. Tak terhitung lagi beberapa karyanya dalam bahasa Inggris dan Belanda, yang tidak hanya mencakup wilayah Maluku Utara, namun juga Indonesia Timur seperti Kenang-Kenangan Pangreh Praja Papua yang diterbitkan Gramedia. Tak hanya itu beliau juga merupakan perintis bagi penulisan kamus bahasa daerah pertama di wilayah Maluku Utara melalui kamus Sahu-Inggris.
Prof Liontine E.Visser mengingatkan generasi muda Maluku Utara untuk menjaga budaya kita sendiri, mendokumentasikan dari apa yang mungkin masih tertinggal, sehingga masyarakat Maluku Utara hingga di pedesaan tidak melupakan jati dirinya, keluarganya, dan bangga dengan background kebudayaannya.
“Jika bukan kalian masyarakat Maluku Utara yang menjaganya, lalu siapa lagi yang merawat budaya ini.” ujarnya dalam kuliah umum tersebut, Selasa (27/01).
Sementara itu Ketua Program Studi Ilmu Sejarah FIB Unkhair, Jainul Yusup, mengatakan kegiatan ini biasanya di lakukan di awal semester, baik semester genap maupun semester ganjil untuk memberikan penyerahan, dan menambah pengalaman riset, sehingga di cari peneliti, dosen atau guru besar yang berpengalaman
“Siapa sih tidak kenal dengan Prof Visser, guru besar Belanda itu sudah 45 tahun meneliti untuk Sahu dan Maluku Utara, semoga mahasiswa ilmu Sejarah terinspirasi dengan pengalaman dan ilmu yang bagikan oleh Prof Liontine E. Visser” tutup Jainul.